9/12/2009

MONSOON

Muson (juga disebut angin musim) adalah angin periodik, terutama di Samudra Hindia dan sebelah selatan Asia. Kata ini juga digunakan untuk menyebut musim di saat angin ini bertiup dari arah barat daya di India dan wilayah-wilayah sekitarnya yang diperlihatkan melalui curah hujan yang besar, dan hujan yang dikaitkan dengan angin jenis ini.


Kata "muson" tampaknya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Arab "موسم" (mosem), yang berarti musim. Kata ini paling sering digunakan untuk merujuk kepada perubahan musiman arah angin di sepanjang pesisir Samudra Hindia, khususnya di Laut Arab, yang bertiup dari barat daya untuk setengah tahun dan dari timur laut untuk setengah tahun lainnya.

Pelaut Yunani dalam legenda, Hippalus secara tradisional dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan muson untuk mempercepat pelayaran sepanjang Samudra Hindia; nama kuno untuk angin muson di daerah ini juga dipanggil Hippalus. Meskipun begitu, kemungkinan besar Hippalus hanyalah orang Yunani pertama yang memanfaatkan angin muson karena para pelaut Yaman telah melakukan perdagangan dengan India lama sebelum masanya

Proses-proses


Muson terjadi karena daratan menghangat dan menyejuk lebih cepat daripada air. Hal ini menyebabkan suhu di darat lebih panas daripada di laut pada musim panas. Udara panas di darat biasanya berkembang naik, menciptakan daerah bertekanan rendah. Ini menciptakan sebuah angin yang sangat konstan yang bertiup ke arah daratan. Curah hujan yang terkait disebabkan udara laut yang lembap yang dialihkan ke arah pegunungan, yang kemudian menyebabkan pendinginan, dan lalu pengembunan.

Pada musim dingin, udara di darat menjadi lebih sejuk dengan cepat, tetapi udara panas di laut bertahan lebih lama. Udara panas di atas laut berkembang naik, menciptakan daerah bertekanan rendah dan angin sepoi-sepoi dari darat ke laut. Karena perbedaan suhu antara laut dan daratan lebih kecil dibandingkan saat musim panas, angin muson musim dingin tidak begitu konstan.
Muson mirip dengan angin laut, namun ukurannya lebih besar, lebih kuat dan lebih konstan.



Muson Musim Dingin Timur Laut(Angin Muson Barat) (Asia)

Angin Muson Barat adalah angin yang bertiup pada periode Bulan Oktober - April (Indonesia). Angin ini bertiup saat matahari berada di belahan bumi selatan, yang menyebabkan benua Australia musim panas, sehingga bertekanan minimum dan Benua asia lebih dingin, sehingga tekananya maksimum. Menurut hukum Buys Ballot, angin akan bertiup dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekenan minimum, sehingga angin bertiup dari benua Asia menuju benua Australia, dan karena menuju Selatan Khatulistiw/Equator, maka angin akan dibelokkan ke arah kiri. Pada periode ini, Indonesia akan mengalami musim hujan akibat adanya massa uap air yang dibawa oleh angin ini, saat melalui lautan luas di bagian utara (Samudar Pasifik dan Laut Cina Selatan


Muson Musim Panas Barat Daya(Angin Muson Timur)

Angin Muson Timur adalah angin yang bertiup pada periode Bulan April - Oktober (Indonesia). Angin ini bertiup saat matahari berada di belahan bumi utara, sehingga menyebabkan benua Australia musim dingin, sehingga bertekanan maksimum dan Benua asia lebih panas, sehingga tekananya minimum. Menurut hukum Buys Ballot, angin akan bertiup dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekenan minimum, sehingga angin bertiup dari benua Australia menuju benua Asia, dan karena menuju Utara Khatulistiw/Equator, maka angin akan dibelokkan ke arah kanan. Pada periode ini, Indonesia akan mengalami musim kemarau akibat angin tersebut melalui gurun pasir di bagian utara Australia yang kering dan hanya melalui lautan sempit.

The East Asian monsoon is a monsoonal flow that carries moist air from the Indian Ocean and Pacific Ocean to East Asia. It affects approximately one-third of the global population, and the countries China, Japan, North Korea, South Korea, Taiwan, etc. It is driven by temperature differences between the Asian continent and the Pacific Ocean. The East Asian monsoon is divided into a warm and dry summer monsoon and a cold and wet winter monsoon. This cold and dry winter monsoon is responsible for the aeolian dust deposition and pedogenesis that resulted in the creation of the Loess Plateau.

In most years, the monsoonal flow shifts in a very predictable pattern, winds being southwesterly in late June to water the Korean peninsula and Japan. This leads to a reliable precipitation spike in July and August. However, this pattern occasionally fails, leading to drought and crop failure. In the winter, the winds are northeasterly and the monsoonal precipitation bands move back to the south, watering southern China and Taiwan.
The East Asian monsoon is known as jangma (장마) in Korea. In Japan the monsoon boundary is referred to as the bai-u as it advances northward during the spring, while it is referred to as the shurin when the boundary retreats back southward during the autumn months.[1] Over Japan and Korea, the monsoon boundary typically takes the form of a quasi-stationary front separating the cooler air mass associated with the Okhotsk High to the north from the hot, humid air mass associated with the subtropical ridge to the south. After the monsoon boundary passes north of a given location, it is not uncommon for daytime temperatures to exceed 32 degrees Celsius (90 degrees Fahrenheit) with dewpoints of 24 degrees Celsius (75 degrees Fahrenheit) or higher.

Tidak ada komentar: